Minggu, 19 Juni 2016

Manajemen Resiko Perbankan

Manajemen Risiko dalam operasional bank meliputi identifikasi risiko, pengukuran dan penilaian, dan tujuannya adalah untuk meminimalkan efek negatif risiko terhadap hasil keuangan dan modal bank. Bank wajib membentuk unit organisasi khusus untuk tujuan manajemen risiko.
Risiko bank yang terbesar dalam operasinya adalah resiko pasar (resiko suku bunga, resiko valuta asing, resiko dari perubahan harga pasar sekuritas, derivatif keuangan dan komoditas), resiko kredit, resiko likuiditas, resiko eksposur, resiko investasi , resiko operasional, resiko hukum, resiko strategis. Resiko ini sangat inter-independen. Peristiwa yang mempengaruhi satu area resiko dapat memiliki konsekuensi untuk berbagai kategori resiko lainnya.
MANAJEMEN RESIKO KREDIT
Risiko kredit didefinisikan sebagai potensi dari bank peminjam atau pihak counter yang akan gagal memenuhi kewajibannya sesuai dengan syarat yang disepakati. Tujuan dari manajemen risiko kredit adalah untuk memaksimalkan tingkat pengembalian kepada bank dengan menjaga resiko pemberian kredit supaya berada di parameter yang dapat diterima. Bank perlu mengelola risiko kredit dari seluruh portofolio serta risiko dari individu atau kredit atau transaksi.
Bagi sebagian besar bank, pinjaman adalah yang terbesar dan juga sumber resiko kredit , namun sumber-sumber risiko kredit lain juga terdapat di seluruh kegiatan bank, termasuk pembukuan perbankan dan pembukuan perdagangan baik yang di dalam atau di luar neraca. Resiko kredit perbankan semakin meningkat (atau resiko dari pihak lainnya ) di berbagai instrumen keuangan selain pinjaman termasuk penerimaan, transaksi antar bank, pembiayaan perdagangan, transaksi valuta asing, masa depan keuangan, swap, obligasi, ekuitas, opsi dan perluasan komitmen dan jaminan, penyelesaian transaksi.
Hubungan Bank dan Risiko
· Bank adalah sebuah institusi yang memiliki surat izin bank, menerima tabungan dan deposito, memberikan pinjaman, dan menerima serta menerbitkan check.
· Risiko didefinisikan sebagai peluang terjadi bad outcome (hasil yang buruk), dan besarnya peluang dapat diestimasikan.
· Risk event (kejadian risiko) adalah terjadinya suatu peristiwa yang menciptakan potensi terjadinya kerugian (hasil buruk).
· Risk loss (risiko kerugian) adalah kerugian yang terjadi sebagai dampak langsung atau tidak langsung dari kejadian risiko. Kerugian tersebut dapat bersifat finansial atau non-finansial.

Bank Bersifat Khusus
Bank disebut bersifat “khusus” karena permasalahan di perbankan bisa mengakibatkan dampak yang serius bagi perekonomian. Bank sebagai perantara (intermediary), artinya, bank adalah sebuah lembaga untuk menyalurkan dana deposito dari nasabah kepada perusahaan-perusahaan (yang berupa suatu pinjaman). Apabila pinjaman yang diberikan bank ternyata tidak dapat dikembalikan oleh perusahaan, hal in akan menimbulkan insolvabilitas (insolvency) yang akan merusak modal pemegang saham (shareholder equity) dan dana dari nasabah. Hal itu disebabkan karena bank memiliki rasio utang terhadap modal (gearing) yang tinggi (highly geared / highly leveraged).
Tidak seperti perusahaan keuangan, maupun industri lain, regulasi bagi industri perbankan tidak hanya mencakup produk dan jasa yang ditawarkan, tetapi juga mencakup lembaga bank itu sendiri. Hal ini karena kegagalan bank akan memberikan dampak jangka panjang yang mendalam terhadap perekonomian.
Berkaitan dengan hal tersebut, otoritas pengawas perbankan (supervisor) menetapkan:
a. Struktur Modal
Struktur modal adalah cara bank untuk mendanai bisnisnya, biasanya melalui kombinasi pemberian saham, obligasi, dan penerimaan pinjaman.
b. Persyaratan Modal Minimum
Sebuah bank dikatakan memiliki modal yang cukup jika bank tersebut memiliki sumber daya finansial yang memadai untuk mengantisipasi potensi kerugianna.
c. Tingkat Likuiditas Minimum
Bank dikatakan memiliki likuiditas yang cukup jika bank tersebut memiliki sumber daya finansial yang memadai untuk mendanai aktivanya (asetnya) dan memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo.
d. Jenis dan Struktur Pemberian Kredit

Bank, Risiko Sistematik, dan Perekonomian
Risiko sistemik adalah risiko di mana kegagalan sebuah bank tidak hanya berdampak langsung terhadap karyawan, nasabah, dan pemegang saham, tetapi bahkan dapat menghancurkan perekonomian. Hal ini lebih dikenal dengan sebutan “run on a bank” atau “bank rush”, yaitu penarikan dana besar-besaran dari bank.
“Run on a bank” terjadi ketika bank tidak mampu memenuhi kewajibannya, atau dengan kata lain bank tidak memiliki dana kas yang cukup untuk membayar kembali nasabah yang ingin menarik dananya (ada masalah solvabilitas). Solvabilitas dari suatu bank tidak hanya menjadi perhatian pemegang saham, nasabah, maupun karyawan, tetapi juga pihak-pihak yang bertanggung jawab mengatur ekonomi.
Sebelum tahun 1930-an, “run on banks” dan masalah solvabilitas relatif sering terjadi. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mengendalikan bank melalui regulasi, dengan memastikan bahwa bank memiliki modal dan memiliki likuiditas yang mencukupi.
Bank sentral sebagai supervisor harus memastikan bahwa bank dapat:
· memenuhi sejumlah permintaan dari deposan yang ingin dananya dikembalikan, tanpa perlu mencairkan pinjamannya (menjual asetnya), dan
· mempertahankan tingkat kerugian yang masuk akal sebagai akibat dari lemahnya sistem pemberian pinjaman atas siklus ekonomi yang turun. Misalnya, dapat bertahan saat resesi.
Sebelumnya tingkat kecukupan modal dan likuiditas tidak diterapkan secara tegas, hanya dihubungkan dengan persentase dari kredit (pinjaman). Namun, ada ‘missing link’(suatu keterkaitan yang hilang dalam menghitung tingkat modal yang cukup bagi bank, yaitu besarnya risiko yang diambil bank. Semakin tinggi risiko yang diambil semakin besar potensi kerugian yang dihadapi. Dengan demikian, semakin besar modal yang harus disediakan. Bank mengambil risiko yang lebih besar, karena mengharapkan keuntungan (margin) yang lebih besar (high risk high return / reward).
Ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban dan membayar kembali nasabah yang ingin menarik dananya dapat terjadi karena:
· Risiko kredit yang buruk
· Persepsi dari sebagian nasabahnya (bersifat tidak nyata)
· Gejolak ekonomi (economic shock), sehingga debitur macet akan meningkat secara signifikan
Bank masih akan terkena risiko perekonomian negara, walaupun sudah melakukan diversifikasi portofolio kreditnya.
Pada dasarnya, perekonomian suatu negara dipengaruhi oleh:
· External shock (guncangan eksternal), misalnya bencana alam atau peristiwa karena perbuatan manusia; dan
· Economic mismanagement (pengelolaan ekonomi yang buruk).
Memburuknya perekoniman suatu negara berdampak pada meningkatnya jumlah kredit macet. Hal ini disebabkan oleh kenaikan suku bunga, penurunan kinerja perusahaan, dan kenaikan tingkat pengangguran. Beberapa hal yang dapat dilakukan bank untk mengurangi dampak tersebut adalah:
· Mematuhi peraturan (termasuk Basel II);
· Membuat skenario atas economic shocks;
· Memiliki tingkat modal yang cukup untuk menjaga dari dampak economic shocks;
· Memperkirakan tingkat kredit macet dan memastikan bahwa tersedia modal yang mencukupi.
 by : Dedy Tri
1420209183

Resiko Perubahan Kurs

MANAJEMEN RISIKO OPERASIONAL DAN RISIKO PERUBAHAN KURS

PENGENDALIAN KUALITAS SEBAGAI STRATEGI MENGHADAPI RISIKO OPERASIONAL
Bab mengenai pengukuran risiko menjelaskan bahwa risiko operasional merupakan risiko yang paling “tua” tetapi belum diketahui karakteristiknya dibandingkan risiko lainnya seperti risiko pasar , risiko tingkat bunga , risiko kredit. Dikatakan paling tua karena perusahaan berurusan dengan aspek operasional praktis sejak perusahaan berdiri.
Sistem operasional yang efektif bisa mengendalikan risiko operasional. Manajemen kualitas pada dasarnya ingin memperbaiki kualitas output melalui pengendalian operasional. Konsep tersebut pertama kali populer untuk proses produksi. Pada perkembangan lainnya manajemen kualitas juga diterapkan untuk lainnya , seperti sektor pelayanan (jasa).
Definisi kualitas
Kualitas mengukur seberapa baik produk atau pelayanan bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Kualitas akan menentukan daya saing organisasi , karena itu organisasi perlu menjaga dan memonitor kualitas.
Jaminan mutu adalah sistem menyeluruh dari kebijakan , prosedur , pedoman , yang diterapkan oleh organisasi untuk menjaga dan mencapai kualitas. Jaminan kualitas terdiri dua fungsi pokok :
ü Rekayasa kualitas : membuat proses dan desain produk yang berkualitas
üPengendalian kualitas : inspeksi untuk melihat apakah standar kualitas sudah terpenuhi
Six – sigma
Six – sigma didefinisikan sebagai metodologi untuk mengelola variasi dalam suatu proses yang menyebabakan produk rusak , yaitu produk yang mempunyai penyimpangan yang lebih besar dari standar penyimpangan tertentu , dan secara sistematis bekerja untuk mengelola variasi tersebut, untuk menghilangkan produk rusak tersebut.
Tujuan dari six sigma adalah untuk mengurangi variasi output dari suatu proses tertentu, sehingga dalam jangka panjang bisa menghasilkan produk rusak kurang dari 3, 4 produk rusak per 1 juta output.
Metodologi Six sigma
Six sigma mempunyai dua metodologi kunci . yaitu DMAIC dan DMADV.

üDMAIC (define , measure , analyze, improve , control) digunakan untuk memperbaiki proses bisnis saat ini yang berada di bawah standar , dan digunakan untuk mencari perbaikan secara gradual.
üDMADV (define , measure , analyze , design , verify) digunakan untuk menciptakan proses atau output yang baru mempunyai kualitas dengan standar six – sigma. DMADV juga bisa digunakan jika proses saat ini membutuhkan lebih dari perbaikan gradual.
DMAIC terdiri dari lima tahap , yaitu :
1.      Mendefinisikan secara formal tujuan dari perbaikan proses yang konsisten dengan permintaan konsumen dan strategi organisasi
2.      Melakukan pengukuran awal untuk perbandingan di masa mendatang
3.      Melakukan analisis untuk memverifikasi kaitan dan hubungan sebab akibat.
4.      Memperbaiki dan mengoptimalkan proses berdasarkan analisis dengan menggunakan teknik seperti desai eksperimen.
5.      Menyiapkan dan mengendalikan percontohan untuk menetapkan kemampuan proses, transisi ke produksi , dan secara terus menerus megukur proses dan menetapkan mekanisme pengendalian, untuk memastikan bahwa variasi diperbaiki sebelum memunculkan produk rusak.
DMADV terdiri dari lima tahap, yaitu :
1.      Mendefinisikan secara formal tujuan dari aktivitas yang konsisten dengan permintaan konsumen dan startegi perusahaan
2.      Mengukur , mengidentifikasi kualitas perusahaan , kemampuan produk , kemampuan proses produksi , assessmentrisiko , dan sebagainya.
3.      Analisis , mengembangkan alternatif desain, menciptakan desain dengan tingkat yang tinggi, dan mengevaluasi kemampuan desain, supaya bisa dipilih desain yang terbaik.
4.      Desain , dan mengembangkan desain yang detail , mengoptimalkan desain , dan merencanakan verifikasi desain.
5.      Verifikasi desain , menyiapkan percontohan , menjalankan proses produksi , dan menyerahkan proses tersebut ke pemilik proses.
Six sigma mengidentifikasi lima peranan kunci untuk menjamin kesuksesannya. Kelima kunci tersebut adalah :
1.      Pemimpin puncak (Direktur atau CEO) organisasi dan anggota manajemen ouncak lainnya. Mereka bertanggung jawab untuk menetapkan visi untuk pelaksanaan six sigma.
2.      Champions bertanggung  jawab terhadap pelaksanaan six sigma di organisasi dengan cara yang terintegrasi. Champion juga bertindak sebagai guru untuk pemegang sabuk hitam six sigma.
3.      Master Black Belts (Guru pemegang sabuk hitam) , ditunjuk oleh champions , bertindak sebagai pakar dalam organisasi (in-house) dalam hal six sigma. Mereka menghabiskan waktunya 100 % untuk six sigma.
4.      Pemegang sabuk hitam bekerja dibawah guru sabuk hitam untuk melaksanakan metodologi six sigma untuk proyek spesifik. Fokus mereka adalah pelaksanaan proyek, sedangkan fokus champions dan guru pemegang sabuk hitam adalah identifikasi proyek / fungsi untuk six sigma.
5.      Pemegang sabuk hijau adalah karyawan yang melaksanakan six sigma berbarengan dengan pekerjaannya. Mereka bekerja di bawah pengarahan pemegang sabuk hitam.
Perbaikan Proses Bisnis
Perbaikan proses bisnis berkaitan erat dengan six sigma, karena salah satu aktivitas six sigma bisa jadi melakukan perbaikan proses bisnis. Perbaikan proses bisnis adalah pendekatan yang sistematis untuk membantu organisasi melakukan perubahan signifikan terhadap cara organisasi menjalankan bisnisnya. Tujuan dari perbaikan proses bisnis lebih pada perubahan radikal , bukannya perubahan secara gradual.
Cara kerja perbaikan proses bisnis :
1.      Mendefinisikan tujuan strategis organisasi, misi dan maksud keberadaan organisasi
2.      Menentukan konsumen , stakehoulders organisasi.
3.      Menentukan struktur dan proses yang ada saat ini. Menyatukan proses bisnis agar bisa memenuhi persyaratan yang diminta oleh konsumen.
4.      Menentukan output apa dari proses tersebut yang akan menghasilkan nilai tambah bagi organisasi.
5.      Setelah output tersebut ditentukan, organisasi perlu memfokuskan pada pencapaian output tersebut, perlu melakukan perubahan agar bisa memenuhi visi dan misinya.
Bagan Pengendalian ( Control Charts )
Bagan pengendalian ingin menunjukkan apakah variasi dari output disebabkan karena proses yang masih terkendali (in control) atau proses yang sudah tidak terkendali (out of control ). Jika situasi menjadi tidak terkendali , maka perbaikan harus dilakukan agar proses kembali lagi ke situasi normal. Bagan pengendalian bisa dikelompokkan berdasarkan data yang dicakup . Bagan x digunakan jika kualitas suatu output diukur dengan variabel seperti panjang , berat , temperatur, dan sebagainya. Jika suatu output mempunyai ukuran diluar batas yang ditentukan , maka proses produksi seharusnya dievaluasi ulang, sebelum dilanjutkan lagi.

MANAJEMEN PERUBAHAN KURS
Eksposur terhadap perubahan kurs tersebut dikelompokkan ke dalam tiga tipe :
1.    Eksposur Transaksi
2.    Eksposur Akuntansi
3.    Eksposur Operasi

Manajemen Eksposur Transaksi
a.       Derivatif
Misalkan importir Indonesia melakukan transaksi pembelian dari eksportir Amerika Serikat. Importir tersebut harus membayar 1juta dollar tiga bula mendatang. Importir tersebut dalam hal ini menghadapi risiko perubahan kurs; jika rupiah melemah, ia bisa melakukan langkah atau hedging dengan derivatif dan instrumen money-market.
Karena importir tersebut membutuhkan dollar 3 bulan mendatang, maka dia dikatakan short S. Short S adalah sedemikian rupa jika rupiah melemah, pemegang posisi short S akan mengalami kerugian dan sebaliknya. Sebagai hedge-nya, importir tersebut bisa membeli 3-bulan S forward.
b.      Money-market Hedge
Misalkan instrumen derivatif tidak ada, hedging dengan money market instrument bisa dilakukan. Misalkan eksportir Indonesia akan memperoleh 1juta dollar 3 bulan mendatang. Ia menghadapi risiko perubahan kurs, dan ia ingin menghilangkan risiko tersebut. Hedging tersebut bisa dilakukan seperti berikut. Misalkan tiingkat bunga dalam S untuk 3 bulan adalah 5%.
T = 0 (sekarang) Pinjam sebesar $1juta / (1,05) = $952.381
Konversi ke rupiah dengan kurs spot Rp10.000/$, untuk memperoleh rupiah sekitar Rp9,52 miliar
T = 3 (3bln)        Memperoleh $1juta
Kas tersebut digunakan untuk melunasi hutangnya, sehingga ia membayar sebesar $952.381 x (1,05) = $1juta
c.       Risk Shifting
Misalkan perusahaan komputer menjual produknya ke Indonesia. Karena komponen diimpor dari luar negeri, maka harga komputer akan sangat tergantung dari kurs yang berlaku. Jika rupiah menguat, harga akan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Atau dengan cara lain dengan menggeser risiko perubahan kurs ke konsumen. Jika posisi konsumen konsumen lebih kuat dibandingkan dengan produsen, maka hal sebaliknya bisa terjadi, yaitu risiko dialihkan dari konsumen ke produsen.

d.      Netting Exposure
Netting Exposure dilakukan dengan menggabungkan ekspousr yang berlawanan sehinggan eksposur bersihnya adalah nol. Misalkan perusahaan Indonesia meminjam dalam dollar. Dalam hal ini perusahaan tersebut menghadapi risiko perubahan kurs. Jika rupiah melemah, perusahaan tersebut bisa menghadapi masalah. Untuk menghilangkan risiko tersebut dengan menjual ke luar negeri (ekspor) sehingga perusahaan tersebut akan memperoleh dolar.
Manajemen Eksposur Akuntansi
Eksposur akuntansi terjadi jika perusahaan, khususnya perusahaan multinasional, melakukan konversi laporan keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya.
Alternatif Manajemen Akuntansi
Kurs
Melemah
Menguat
Aset
Dikurangi
Ditambah
Kewajiban
Ditambah
Dikurangi

Jika dalam situasi diatas, rupiah diperkirakan melemah, maka alternatif yang bisa dilakukan adalah mengurangi aset dan/atau menambah kewajiban. Tetapi cara seperti itu tidak sepenuhnya menghilangkan risiko, karena kita masih menebak-nebak arah perubahan kurs. Dalam hal ini kita melakukan spekulasi. Jika tebakan kita salah, maka kita akan merugi. Jika pasar sudah efisien, maka alternatif semacam itu tidak akan menghasilkan keuntungan. Alternatif lain dengan menggunakan derivatif untuk mencegah kerugian yanng muncul akibat perubahan kurs.


Manajemen Eksposur Operasi
Eksposur operasi terjadi karena perubahan kurs akan mengakibatkan terganggunya operasi perusahaan. Manajemen eksposur operasi bisa dilakukan sebagai berikut :
a.    Jangka pendek : memanfaatkan situasi perubahan kurs untuk kepentingan perusahaan.
b.    Jangka panjang : mengurangi sensitivitas operasi perusahaan terhadap perubahan kurs
-          Memanfaatkan Situasi Perubahan Kurs
Misalkan perusahaan Jepang sedang bersiap-siap untuk meluncurkan produk baru di Amerika Serikat. Tiba-tiba yen melemah signifikan terhadap dollar. Jika yen melemah terhadap dollar, maka harga produk tersebut dalam $ akan menurun. Karena harganya turun, maka situasi tersebut tersebut merupakan kesempatan baik untuk merebut pangsa pasar di Amerika Serikat.
-          Mengurangi Sensitivitas Operasi Perusahaan Terhadap Perubahan Kurs
Pengaruh sensitivitas tersebut bisa dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut :
v  Aspek Pemasaran. Perusahaan bisa membuat pemasaran yang membuat konsumen berkurangnya sensitivitasnya terhadap kurs, misal dengan mendiferensiasikan produknya. Produk terdiferensiasi mempunyai fitur tertentu yang menarik konsumen membeli. Konsumen membeli bukan karena harga, melainkan karena fitur tersebut.
v  Cara lain adalah dengan mendiferensiasikan pasar di luar negeri. Sebagai contoh , jika perusahaan Jepang, 90% eksposurnya ke Amerika Serikat, maka penguatan yen terhadap dolar akan menimbulkan masalah. Perusahaan tersebut bisa mendiversifikasikan pasarnya sehingga akan mengeksposurkan produknya.
v  Aspek Produksi. Perusahaan bisa melakukan manajemen eksposur operasi melalui aspek produksi. Sebagai contoh, perusahaan Jepang menghadapi masalah dengan penguatan yen terhadap dollar. Jika perusahaan tersebut membeli inputnya tidak hanya dari Jepang, tetapi juga dari negara lain. Alternatif lainnya perusahaan bisa memindahkan fasilitas produknya.
Aspek Lain. Masih banyak aspek dan teknik lain yang bisa digunakan untuk manajemen eksposur operasi. Sebagai contoh, perusahaan Jepang yang menjual produknya ke Amerika Serikat akan menerima $. Perusahaan tersebut bisa meminjam dengan eksposur bersihnya adalah nol.    


by : Dedy Tri
1420209183

Operational Risk

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internalkesalahan manusiakegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Risiko operasonal dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko ini merupakan risiko yang melekat (inherent) pada setiap aktivitas fungsional Bank, seperti kegiatan perkreditan (penyediaan dana), tresuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi sistem informasi dan sistem informasi manajemen, dan pengelolaan sumber daya manusia.

Risiko operasional bukanlah hal baru walaupun disadari merupakan risiko yang paling akhir terdefinisikan dalam Basel II. Definisi risiko operasional dalam Basel II adalah termasuk risiko hukum, namun tidak mencakup risiko bisnis, strategis dan reputasi.

Terdapat empat jenis kejadian risiko operasional berdasarkan frekwensi dan dampak, yaitu :
  • Low Frequency / Low Impact (LF/LI) – jarang terjadi dan dampaknya rendah
  • Low Frequency / High Impact  (LF / HI) – jarang terjadi namun dampaknya sangat besar  
  • High Frequency / Low Impact (HF / LI) – sering terjadi namun dampaknya rendah
  • High Frequency / High Impact (HF / HI) – sering terjadi dan dampaknya sangat besar
Berikut ilustrasi dari beberapa jenis kejadian risiko operasional :

Manajemen risiko operasional umumnya hanya terfokus kepada kejadian yang sifatnya Low Frequency / High Impact (LF/HI) dan High Frequency / Low Impact  (HF/LI).  Bank tidak terfokus kepada kejadian dengan frekwensi rendah dan dampak yang ditimbulkan juga rendah (LF/LI), akibat biaya pengelolaan dan pemantauannya mungkin lebih tinggi dari kerugian yang ditimbulkan. Sebaliknya, kejadian yang sifatnya HF/HI (atau sering terjadi dan dampaknya besar) adalah tidak relevan, mengingat kejadian ini akan mengakibatkan bank jatuh dalam waktu singkat.

Kejadian yang sifatnya high frequency / low impact (HF/LI) dikelola oleh bank untuk menciptakan efisiensi. Kejadian ini cenderung sudah diantisipasi / dapat diperkirakan (expected loss) dan dianggap sebagai biaya pelaksanaan usaha. Misal : untuk mengantisipasi terjadinya fraud karyawan dalam penyaluran kredit, sebuah bank akan menambahkan faktor ‘premi risiko’ dalam tingkat bunga yang ditawarkan kepada debitur. Fraud dan kesalahan pemrosesan dalam aktivitas bank seperti ini, umumnya dapat diatasi oleh bank dengan penerapan kebijakan dan prosedur rutin yang dilakukan sehari-hari untuk meminimumkan frekwensi maupun dampaknya.

Untuk kejadian risiko yang bersifat Low Frequency / High Impact perlu diperhatikan secara seksama mengingat kejadian ini dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bahkan dapat menyebabkan kejatuhan bank.

Dalam manajemen risiko operasional, bank dipersyaratkan untuk memperhitungkan kerugian yang diperkirakan (expected loss) dan kerugian yang tidak diperkirakan (un-expected loss) dalam kebutuhan modal bagi risiko operasional.

Expected loss / kerugian yang diperkirakan didefinisikan sebagai kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan usaha secara normal. Jenis kerugian ini diasumsikan selalu ada sepanjang bank melaksanakan kegiatan usahanya. Olehnya bank telah mengantisipasinya dengan menawarkan harga produk yang mana didalamnya telah mengcover potensi kerugian tersebut (sebagaimana contoh pada kasus fraud karyawan di atas).

Un-Expected Loss / kerugian yang tidak diperkirakan didefinisikan sebagai kerugian  yang timbul dari kejadian luar biasa yang menurut bank potensi kejadiannya sangat kecil dan besarnya kerugian yang ditimbulkan sangat signifikan jauh berada di atas nilai wajar yang dapat dikategorikan sebagai kerugian yang diperkirakan. Kejadian ini merupakan bukan kejadian yang timbul akibat kegiatan usaha bank.

Untuk lebih memahami seluk beluk Manajemen Risiko Operasional, silahkan lihat seluruh postingan saya dalam label "Manajemen Risiko Operasionnal" 

by : Dedy Tri
1420209183

Credit Risk

Pengertian Risiko Kredit

Adalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak /kesepakatan yang telah dilakukan.

Definisi ini dapat diperluas yaitu bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul dikarenakan kualitas kredit semakin menurun. Memang penurunan kualitas kredit dimaksud belum tentu berimplikasi pada terjadinya default, namun paling tidak kemungkinan terjadinya default akan semakin besar.

Hal-hal yang termasuk dalam Risiko Kredit adalah :

Lending Risk, yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi fasilitas yang telah diberikan oleh bank, baik berupa fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun non cash loan)

Counterparty Risk, risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewajibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan.

Issuer Risk, risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank.

Ruang Lingkup Risiko Kredit Dengan Jenis Risiko Lainnya

Ruang lingkup risiko  kredit tidak dapat dipisahkan secara jelas dan tegas dengan jenis risiko lainnya (risiko operasional, risiko pasar dan risiko likuiditas) dan keempat jenis risiko ini saling terkait.

Risiko kredit dapat timbul dikarenakan telah terjadinya risiko pasar terlebih dahulu. Sebagai contoh, nilai kredit nasabah menjadi sangat besar, dikarenakan kredit diberikan dalam dominasi valas dan nilai tukar Rupiah melemah.

Risiko kredit dapat timbul dikarenakan telah terjadinya risiko operasional terlebih dahulu.Sebagai contoh, petugas Bank telah lalai dalam melaksanakan taksasi jaminan dan pengikatannya.

Credit Risk Management 

Credit Risk Management merupakan suatu proses dimana risiko kredit diidentifikasi, diukur, dan dikelola (termasuk monitoring, controlling dan communication).

Proses dimaksud sifatnya cyclical, dan dimulai sejak aplikasi kredit diterima oleh Bank, dianalisa, persetujuan, pemantauan, dan penyelamatan.

Agar proses pengelolaan risiko kredit tersebut dapat berjalan secara efisien diperlukan infrastruktur pendukung, yaitu: Kebijakan, Organisasi, Sistem Informasi, dan Risk Modelling.


By : Dedy Tri
1420209183
studibisnis