Sabtu, 16 April 2016

RISK OF CHANGES IN INTEREST RATES

RISIKO PERUBAHAN TINGKAT BUNGA

1.    KARAKTERISTIK RISIKO PERUBAHAN TINGKAT BUNGA
       Perubahan tingkat bunga bisa menyebabkan perusahaan menghadapi dua tipe risiko :
a.       Risiko perubahan pendapatan
Pendapatan bersih ( hasil investasi dikurangi biaya ) berukurang dari yang diharapkan
b.      Risiko perubahan nilai pasar
Nilai pasar berubah karena perubahan tingkat bunga,yaitu berubah menjadi lebih kecil ( turun nilainya )

Risiko Perubahan Pendapatan
Perubahan tingkat bunga dapat menyebabkan sedikitnya perubahan pendapatan. Ada  2 jenis risiko perubahan pendapatan yang dihadapi oleh perusahaan :
a.   Risiko Penginvestasian kembali
     Misal asset seperti berikut ini :
      Aset
Kewajiban (Pasiva)
Obligasi jangka waktu  :1 tahun ,bunga : 12% pertahun
Obligasi jangka waktu: 2 tahun , dengan bunga : 10% pertahun,selama 2 tahun

  




Keterangan :
·         Tahun 1 perusahaan peroleh keuntungan ( spreads ) 2% = 12% - 10%
·         Tahun kedua tergantung tingkat bunga investasi
·         Bila 12% tingkat bunga tetap peroleh keuntungan sama dengan tahun pertama
·         Bila bunga 8%, rugi 2%

b.      Risiko Pendanaan Kembali
Aset
Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun ,bunga 12% pertahun
Obligasi jangka waktu 1 tahun ,Bunga: 10% pertahun





Keterangan :
·      Tahun pertama spreads keuntungan 12%-10% = 2%
·      Tahun ke-2 tergantung tingkat bunga obligasi berlaku
·      Jika bunga pendanaan sama sebesar 10% maka diperoleh keuntungan 2%
·      Jika bunga 14% rugi 2%

Risiko Perubahan harga Pasar
Perubahan tingkat bunga menyebabkan perubahan nilai pasar aset atau kewajiban yang dipegang oleh perusahaan, jika penurunan nilai aset lebih besar dibanding dengan penurunan nilai kewajiban, maka perusahaan mengalami kerugian atau sebaliknya, Secara umum, jika bunga meningkat maka nilai sekuritas cenderung mengalami penurunan. Tingkat penurunan nilai tersebut bisa berbeda dari satu sekuritas ke sekuritas lainnya.

Misal perusahaan mempunyai neraca sebagai berikut :
Aset
Pasiva
Obligasi jangka waktu 10 tahun ,nilai nominal :Rp. 1 juta. Kupon Bunga :10% Nilai pasar: Rp. 1 juta
Obligasi jangka waktu 2 tahun,Nilai nominal: Rp. 1 juta.Kupon Bunga: 10% Nilai pasar: Rp. 1 juta

Misalkan tingkat yang berlaku adalah 10%, maka nilai obligasi yang menjadi asset dan obligasi kewajiban adalah :
Obligasi asset              =  100.000 +………….......+ 1.100.000   =  1 juta
                                                     (1+0,1)1                           (1+0,1)10

Obligasi Kewajiban     =  100.000 +………….........+ 1.100.000   =  1 juta
                                                                 (1+0,1)1                             (1+0,1)2
Obligasi asset dan kewajiban mempunyai nilai pasar yang sama yaitu Rp 1 juta. Misalkan tingkat bunga naik menjadi 12%, maka nilai obligasi keduanya adalah:
Obligasi asset  =            100.000 +………+ 1.100.000   = Rp. 886.996
                                                   1+0,12)1              (1+0,12)10
Obligasi Kewajiban     =  100.000 +………+ 1.100.000        =  Rp. 966.199
                                                     (1+0,12)1                (1+0,12)2
Terlihat bahwa kedua obligasi tersebut mengalami penurunan nilainya. Karena obligasi asset mengalami penurunan lebih besar dibandingkan turunnya obligasi kewajiban, maka perusahaan tersebut mengalami kerugian.

2.    PENGUKURAN RISIKO PERUBAHAN TINGKAT BUNGA : METODE PENILAIAN KEMBALI        (REPRICING MODEL )
Periode Harian
Repricing model mencoba mengukur risiko perubahan tingkat bunga dengan menggunakan pendekatan pendapatan. Model tersebut ingin melihat bagaimana pengaruh perubahan tingkat bungaterhadap pendapatan yang diperoleh suatu organisasi.

  
Aset
Kewajiban ( Pasiva )

Meminjamkan dipinjaman pasar antar bank 1 hari                             Rp  2 M
Comercial Paper 3 bulan       Rp  3 M
Surat Hutang 6 bulan            Rp  5 M
Pinjaman 1 tahun                  Rp   6 M
Obligasi 3 tahun                    Rp 10 M
Obligasi 3 tahun tk bunga   mengambang           Rp   5 M
Pinjaman bunga tetap
 jangka waktu 10 tahun         Rp 10 M
Meminjam di pasar antar bank
1 hari                          Rp    3 M
Tabungan                   Rp    3 M
Deposito 1 bulan        Rp  10 M
Deposito 1 tahun        Rp  10 M
Deposito 2 tahun        Rp  10 M

Modal                         Rp    5 M









Total Aset                              Rp 41 M
Total Pasiva                Rp   41 M























Langkah – langkah yang perlu dilakukan :
1.    Mengidentifikasi dan mengelompokan aset atau kewajiban yang rentan terhadap perubahan tingkat bunga, yaitu asset atau kewajiban yang harus dinilai ulang jika tingkat bunga berubah.

2.    Menghitung gap anatar aset sensitif dengan kewajiban sensitif terhadap perubahan bunga dan menghitung perubahan pendapatan jika tingkat bunga berubah.

a.       Mengidentifikasi dan mengelompokkan asset
Misal aset  bank pinjaman dipasar antar bank satu hari sebesar  Rp 2 miliar, jika tingkat bunga besokberubah (misal naik), maka pendapatan bunga yang diperoleh akan berubah (meningkat dalam hal ini), dengan kata lain aset ini tergolong sensitif dan harus dinilai kembali ( Reprice). Disisi lain melihat sisipasiva,  bank meminjam dipasar antar bank sebesar Rp 3 miliar, bank memiliki aset yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga sebesar Rp 3 miliar, ini tergolong sensitif dan harus dinilai kembali ( Reprice )jika bunga harian berubah.

b.      Menghitung Gap antara Asset dan Kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga dan menghitung perubahan pendapatan

Gap antara RSA dengan RSL bisa dihitung sebagai berikut :
GAP = (Rp 2 miliar) – (Rp 3 miliar ) = - Rp 1 miliar

Misalkan tingkat bunga meningkat sebesar 1% (misal dari 10% menjadi 11%), maka pendapatan bank tersebut berubah sebesar :
Perubahan pendapatan           = (GAP x ( Δ Bunga)
                                                 =  - Rp 1 miliar x 0,01 = -Rp 10 juta
Dengan kata lain bank tersebut mengalami kerugian sebesar Rp 10 juta jika tingkat bunga sebesar 1% .

Periode Lebih dari Satu Hari
Identifikasi aset sensitif terhadap perubahan tingkat bunga dalam  waktu 1 tahun. Berikut hasil identifikasi tersebut :

Meminjam dipinjaman pasar antarbank 1 hari                                     Rp 2 M
Commercial Paper 3 bulan                                                                   Rp 3 M
Surat Hutang 6 bulan                                                                            Rp 5 M
Pinjaman 1 tahun                                                                                  Rp 6 M
Bagian Obligasi  3 tahun yang jatuh tempo tahun ini                           Rp2 M
Obligasi 3 tahun tingkat bunga mengambang                                      Rp 5 M +
      
       Total Rate sensitif aset (RSA)                                                       Rp 23 M

Untuk obligasi 3 tahun, sebesar Rp 2 M jatuh tempo tahun ini, Karena itu sejumlah Rp 2M akan dinilai ulang jika tingkat bunga berubah. Untuk obligasi dengan tingkat bunga mengambang,karena tingkat bunga ditetapkan kembali selam enam bulan, maka obligasi tersebut akan dinilai ulang setiap enam bulan. Pinjaman dengan bunga tetap dengan jangka waktu 10 tahun tidak masuk dalam perhitungan, karena tingkat bunga tersebut tetap selama 10 tahun, tidak akan berubah meskipun tingkat bunga berubah – ubah. Dari perhitungan diatas, nampak bahwa bank tersebut mempunyai asset yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga selama periode satu tahun (RSA) sebesar         Rp 23 M.

Langkah berikutnya adalah mengidintifikasi kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga untuk periode 1 tahun :

Meminjam dipasar antar bank 1 hari               Rp  3 M
Tabungan                                                         Rp  3 M
Deposito 1 bulan                                              Rp 10 M
Deposito 1 tahun                                              Rp 10 M
Total Rate Sensitive Liability ( RSL )              Rp 26 M

Dari perhitungan di atas nampak bahwa bank tersebut mempunyai kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga selama periode 1 tahun ( RSL ) sebesar Rp 26 M
Gap Sebagai Indikator Risiko Tingkat Bunga
Kumulatif GAP = RSA – RSL
                           = Rp 23 M –  Rp 26 M = - Rp 3 M

Maka kenaikan bunga akan merugikan bank tersebut karena gap negatif . dalam contoh diatas, gap ratio adalah :
GAP Ratio      = KGAP / Total asset
                        = - Rp 3 M / Rp 41 M = - 0,073 atau - 7,3%

Gap ratio bermanfaat karena memberikan informasi besarnya gap relatif terhadap total asset. Sebagai contoh, misal ada dua bank dengan inormasi gap berikut ini :
Bank A
Bank B
Gap
-  Rp 10 M
- Rp  20 M
Total Aset
   Rp 100 M
  Rp 500 M
Gap Ratio
    -  10%
    - 4%

    






GAP Bank A lebih kecil dari bank B, sehingga eksposure Bank A terhadap resiko nampak lebih kecil dari Bank B, Tapi jika dibanding total aset terlihat Gap ratio B lebih kecil dibanding A. Jika suatu perusahaan / bank ingin menghilangkan eksposur terhadap resiko perubahan tingkat bunga, maka bank tersebut bisa membuat neraca dengan gap sama dengan nol.  Otomatis juga akan kehilangan kesempatan memperoleh perbedaan bunga. Untuk itu bank menetapkan gap tertentu.
GAP ratio sebesar plus/minus 15% biasa dilakukan oleh bank.

Perubahan Tingkat Bunga yang Berbeda Untuk Asset dan Kewajiban
Δ Pendapatan bersih   =  Δ Pendapatan bunga –  Δ Biaya bunga
Kembali ke contoh di atas, di mana Bank mempunyai RSA sebesar Rp 23 M, dan mempunyai RSL sebesar Rp 26 M, atau gap sebesar – Rp 3 M. Misalkan tingkat bunga untuk asset berubah 2% sementara tingkat bunga untuk kewajiban berubah 1%.
Maka perubahan pendapatan :
ΔPendapatan bersih    = (Rp 23 M)(0,02) – (Rp 26 M)(0,01)
                                    = Rp 460 juta – Rp 260 juta
                                    = Rp 200 juta
Terlihat bahwa bank justru memperoleh keuntungan karena pendapatan bunga meningkat lebih beasr dibandingkan dengan biaya bunga.

3.  PENGUKURAN RISIKO PERUBAHAN TINGKAT BUNGA : METODE JANGKA WAKTU (MATURITY MODEL )

Perhitungan Gap jangka waktu
·         Metode repricing (penilaian kembali mempunyai kelemahan terutama karena tidak memperhatikan efek perubahan nilai pasar dari perubahan tingkat bunga. Jika tingkat bunga meningkat maka discount rate atau tingkat pendiskontoan juga meningkat.  Present value aliran kas di masa datang semakin kecil dan nilai pasar sekuritas akan turun. 

·         Contoh metode repricing
suatu bank membeli obligasi dengan tujuan untuk investasi (dipegang sampai jatuh tempo) dalam situasi tersebut bank akan mencatat nilai historis obligasi di neracanya.  Bank memperoleh pendapatan hanya dari kupon bunga yang dibayarkan.
·         Contoh Metode pengukuran risiko perubahan tingkat bunga yang memperhitungkan perubahan nilai pasar
Bank lain membeli obligasi dengan tujuna untuk memperoleh keuntungan melalui trading (memperjual belikan sekuritas).  Bank akan mencatat nilai obligasi di neracanya berdasarkan nilai pasar obligasi. Karena itu nilai pasar obligasi akan di efaluasi praktis setiap hari.  Jika nilai pasar obligasi lebih kecil nilai belinya, bank tersebut merugi dan sebaliknya.

Imunisasi Dengan Metode Jangka Waktu
Jika bank ingin melakukan imunisasi melalui metode jangka waktu agar perubahan tingkat bunga tidak mengakibatkan kerugian maka bank bisa menyamakan jangka waktu aset dan jangka waktu kewajiban :
     MA = ML atau MA – ML = 0

Jika bank menyamakan sumberdana dengan aset maka neracanya :
Aktiva
Pasiva
Obligasi jangka waktu 10 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%
Obligasi jangka waktu 20 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%
Pinjaman jangka pendek, bunga 15% jangka waktu 15 tahun, nilai nominal = Rp 18 juta
Modal saham Rp 2 juta
Total aset                 Rp 20 juta
Total Pasiva             Rp 20juta

Misal tingkat bunga meningkat menjadi 17% nilai aset dan kewajiban yang baru :
Aktiva
Pasiva
Oblogasi jangka waktu 10 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%                     Rp 9.068.279
Obligasi jangka waktu 20 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%                   Rp 8.874.447
Pinjaman jangka pendek, bunga 15% jangka waktu 15 tahun, nilai nominal = Rp 18juta
                                       Rp 16.083.293
Modal saham Rp 2 juta      Rp1.859.433   
Total aset                       Rp 17.942.726
Total Pasiva                   Rp 17.942.726

Bank bisa menekan risiko perubahan tingkat bunga dengan menyamakan jangka waktu aset dengan jangka waktu kewajiban tetapi bank tidak bisa sepenuhnya mengimunisasi risiko perubahan tingkat bunga. Hal ini merupakan kelemahan dari metode jangka waktu ( maturity model )


Tugas MEET 06


PROPERTY DAMAGE RISK AND LIABILITY

RESIKO PROPERTI
Resiko yang mungkin terjadi atas properti (harta benda) karena  minor maupun majeur force.
Cakupan Asuransi Umum & Properti:
Ø  Asuransi Harta Benda (Property Insurance)
Ø  Asuransi Rekayasa (Engineering Insurance)
Ø  Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo Insurance)
Ø  Asuransi Rangka Kapal (Marine Hull Insurance)
Ø  Asuransi Usaha Minyak & Gas Bumi (Oil & Gas Insurance)
Ø   Asuransi Pesawat (Aviation Insurance)
Ø  Asuransi Satelit (Space Insurance)
Ø  Asuransi Kecelakaan Diri (Personal Accident Insurance)
Ø  Asuransi Tanggung Gugat (Liability Insurance)
Ø  Asuransi Uang (Money Insurance)
Ø  Asuransi Kebongkaran (Burglary Insurance)
Dalam perusahaan asuransi, resiko atas harta benda biasanya masuk dalam kategori asuransi umum. Harta benda mencakup banyak kategori spt, bangunan, perabot rumah tangga, perlengkapan rumah, mesin, barang dagangan, persediaan bahan baku atau barang jadi dsb.

KLASIFIKASI HARTA BENDA
Ø  Properti riil: properti riil bisa didefinisikan sebagai tanah dan apa saja yang tumbuh, berdiri.  Contoh properti riil adalah tanah, bangunan yang berdiri di atasnya, atau tanaman yang tumbuh di atas tanah tersebut.
Ø  Properti personal: properti personal bisa didefinisikan sebagai apa saja yang dimiliki selain properti riil. Contoh personal properti adalah mobil, pakaian, komputer, uang, dan lainnya.
Eksposur yang dihadapi harta benda mencakup kejadian (peril) yang standar yg dihadapi oleh harta benda (sesuai dengan Polis Standar Kebakaran Indonesia), yang mencakup kebakaran, petir, asap, ledakan, dan kejatuhan pesawat terbang. Selain itu kejadian lain yang dicakup oleh asuransi adalah kerusuhan, tananh longsor, banjir, dan biaya pembersihan puing.
Tidak semua harta benda bisa diasuransikan , biasanya asuransi hanya mengcover benda yang keliahatan (tangible assets), sedangkan yang tidak kelihatan (intagible assets) seperti hak cipta, nama baik tidak termasuk cakupan asuransi.


IDENTIFIKASI RISIKO PROPERTI DENGAN MELIHAT SUMBERNYA
Alternatif lain untuk melihat eksposur atau risiko yang dihadapi harta benda adalah dengan melihat sumber-sumber dari risiko yang bisa berpengaruh thd harta benda. Sumber tersebut bisa diklasifikasikan menjadi :
a.       Sumber Fisik, mencakup antara lain kekuatan alam, seperti api, badai, ledakan yang bisa menghancurkan harta benda.
b.      Sumber Sosial, mencakup kejadian yang muncul karena dorongan sosial.
Contoh, kerusuhan yang terjadi yang berakibat pada perusakan properti.
c.       Sumber Ekonomi, mencakup kekuatan ekonomi yang mengakibatkan kerusakan.
Contoh, perubahan model menyebabkan barang stok lama menjadi kehilangan nilainya.

KERUGIAN YANG DIALAMI HARTA BENDA
Kerugian akibat kejadian buruk yang terjadi bisa diklasifikasikan sbb :
(1) Kerugian langsung, Kerugian langsung terjadi jika kejadian buruk mempunyai dampak langsung terhadap properti. Contoh, kebakaran menghancurkan bangunan. Kerugian karena bangunan yang hancur akibat kebakaran tersebut merupakan kerugian langsung.
(2) Kerugian Tidak Langsung, Kerugian tidak langsung terjadi jika kejadian buruk tersebut berdampak secara tidak langsung terhadap kerugian tersebut. Contoh, karena bangunan hancur, maka kegiatan bisnis dan perkantoran menjadi terganggu. Perusahaan terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membangun fasilitas perkantoran darurat. Jika bangunan tersebut bisa disewakan, kebakaran tersebut menyebabkan pendapatan sewa tidak diperoleh. Kerugian karena pendapatan yang hilang tersebut merupakan contoh kerugian tidak langsung.
 (3) Elemen Waktu, Kerugian tidak langsung bisa jadi mempunyai elemen waktu jika waktu dilibatkan dalam perhitungan kerugian tersebut. Sebagai contoh, jika karena kebakaran, bangunan tidak bisa disewakan sampai rekonstruksi selesai dilakukan. Kerugian tersebut akan berhubungan positif dengan jangka waktu perbaikan. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan, semakin besar kerugian yang dialami oleh perusahaan. Dengan kata lain, besarnya kerugian merupakan fungsi dari waktu.

METODE PENILAIAN KERUGIAN ASET FISIK
1.       NILAI PASAR (HARGA PASAR)
2.       REPLACEMENT COST (BARU)
3.       REPLACEMENT COST DIKURANGI DEPRESIASI

NILAI PASAR
1.       Harga pasar adalah harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar.
2.       Penilaian property riil dengan menggunakan metode harga pasar bisa dilakukan dengan membandingkan harga pasar aset yang mirip yang pernah diperdagangkan (jika aset semacam itu bisa ditemukan).
3.       Disamping itu jika tidak bisa ditemukan aset dengan karakteristik yang sama persis dengan aset yang hancur, maka penyesuaian-penyesuaian juga perlu dilakukan.
4.       Perhitungan harga pasar secara tidak langsung, dengan menggunakan opportunity cost (kesempatan yang hilang)
Sebagai contoh, misalkan kita membeli obligasi atas unjuk dengan nilai nominal Rp1 juta, kupon bunga 20%, jangka waktu lima tahun. Obligasi tersebut hilang. Tingkat keuntungan yang relevan 15%. Berapa Opportunity costnya?
·         Penilaian properti riil dengan menggunakan metode harga pasar lebih sulit dibandingkan untuk property personal.
·         Untuk property personal, karena lebih likuid (sering diperdagangkan), harga-harga biasanya lebih mudah diperoleh.

METODE REPLACEMENT COST (BARU)
Tehnik Replacement Cost baru dilakukan dengan melihat biaya yang diperlukan untuk mengganti barang yang rusak dengan barang baru yang sama.

REPLACEMENT COST BARU DIKURANGI DEPRESIASI
Manajer akan menghitung replacement cost (baru) kemudian dikurangi dengan depresiasi atau angka yang mencerminkan turunnya nilai ekonomis.
Argumen yang mendasari tehnik tersebut adalah nilai suatu property yang sebenarnya adalah nilai property tersebut dikurangi dengan depresiasi atau penurunan nilai karena sudah digunakan (barang bekas/second) juga bisa karena berjalannya waktu (tua), juga bisa disebabkan faktor desain (fashionable/out of date). 

Sebagai contoh, jika suatu bangunan yang mempunyai nilai penggantian (replacement cost) Rp100 juta, tetapi sudah 20 tahun dibangun. Jika bangunan tersebut terbakar, perusahaan asuransi barangkali tidak akan membangun kembali bangunan tersebut. Sebagai gantinya, perusahaan asuransi akan mengurangi nilai tersebut dengan depresiasi (sehingga jumlahnya lebih kecil dari Rp100 juta), dan memberikannya dalam bentuk kas.

Tugas MEET 05

THE TECHNIQUES OF RISK MANAGEMENT

TEKNIK – TEKNIK MANAJEMEN RISIKO
Bab ini membicarakan beberapa alternatif untuk pengelolaan risiko. Beberapa alternatif bisa dipilih untuk mengelola risiko yang dihadapi, yaitu :

1. PENGHINDARAN RISIKO ( RISK AVOIDANCE )
Risiko yang tidak perlu, risiko yang bisa dihilangkan tanpa ada pengaruh negatif terhadap pencapaian tujuan, bisa dihindari. Dalam kebanyakan situasi, risiko tidak bisa dihindari. Perusahaa secara sengaja melakukan aktivitas bisnis tertentu untuk memperoleh keuntungan. Dalam melakukan bisnis tersebut, perusahaan menghadapi risiko yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Karena itu , risiko semacam itu tidak bisa dihindari.

2. PENANGGUNGGAN ATAU PENAHANAN RISIKO ( RISK RETENTION )
Alternatif lain dari manajemen risiko adalah perusahaan menanggung sendiri risiko yang muncul ( menahan risiko tersebut atau risk retention ). Jika risiko benar -benar terjadi, perusahaan tersebut harus menyediakan dana untuk menanggung risiko tersebut.

Penahanan Yang direncanakan dan yang Tidak Direncanakan
Penahanan risiko bisa terjadi secara terencana dan tidak terencana. Jika perusahaan mengevaluasi risiko – risiko yang ada, kemudian memutuskan untuk menahan risiko dengan terencana. Pada situasi lain, perusahaan tidak sadar akan risiko yang dihadapinya. Dalam situasi tersebut perusahaan menahan risiko dengan tidak terencana.

Pendanaan Risiko yang Ditahan
Risiko yang ditahan bisa didanai dan bisa juga tidak didanai. Jika perusahaan tidak menetapkan pendanaan yang khusus ditujukan untuk mendanai risiko tertentu, jika risiko tersebut tidak muncul, maka risiko tersebut tidak didanai. Dalam beberapa situasi, alternatif tersebut merupakan pilihan yang masuk akal.
Dalam situasi tersebut, perusahaan bisa mendanai risiko tersebut. Pendanaan bisa dilakukan melalui beberapa cara, seperti menyisihkan dana cadangan , Self-insurance, dan captive insures.

a. Dana Cadangan
Perusahaan menyisihkan dana tertentu secara periodik yang ditujukan untuk membiayai kerugian akibat dari risiko tertentu.

b. Self – insurance dan Captive Insures
Pengelolaan dana cadangan bisa ditingkatkan lagi menjadi semacam asuransi untuk internal perusahaan sendiri ( self-insurance ). Meskipun ada keberatan disini  tidak mengindikasikan adanya transfer risiko ke pihak luar. Risiko masih berada di perusahaan.
Dengan self – insurence, perhitungan dilakukan lebih teliti untuk menentukan berapa besarnya premi yang harus disisihkan, berapa besarnya tanggungan yang bisa diberikan.
Captive – insurance dilakukan dengan mendirikan anak perusahaan asuransi yang menjadi bagian dari perusahaan. Risiko dalam perusahaan bisa di asuransikan ke captive insurers tersebut.

3.   PENGALIHAN RISIKO ( RISK TRANSFER )
Alternatif lain dari manajemen risiko adalah memindahkan risiko ke pihak lain ( mentransfer risiko ke pihak lain). Pihak lain tersebut biasanya mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan risiko, baik karena skala ekonomi yang lebih baik sehingga bisa mendiversifikasikan risiko lebih baik. Risiko transfer dilakukan melalui beberapa cara :

1.      Asuransi
Asuransi merupakan metode transfer risiko yang paling umum, khususnya untuk risiko murni ( pure risk ). Asuransi adalah kontak perjanjian antara yang diasuransikan ( insured ) dan perusahaan asuransi ( insurer ), di mana insurer bersedia memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami pihak yang diasuransikan, dan pihak pengasuransi ( insurer ) memperoleh premi asuransi sebagai balasannya.
Empat hal diperlukan dalam transaksi asuransi :
-    Perjanjian kontrak
-    Pembayaran premi
-    Tanggungan ( benefit ) yang dibayarkan jika terjadi kerugian seperti yang disebutkan dalam                kontrak
-    Penggabungan ( pool ) sumber daya oleh perusahaan asuransi yang diperlukan untuk membayar           tanggungan.

2.      Hedging
      Hedging atau lindung nilai pada dasarnya mentransfer risiko kepada pihak lain yang lebih bisa mengelola risiko lebih baik melalui transaksi instrument keuangan.
      Cara kerja hedging mirip dengan asuransi, yaitu jika kita rugi karena risiko tertentu kita memperoleh kompensasi dari kontrak lainnya. Jika di asuransi, asuransi diberikan oleh perusahaan asuransi. Sedangkan untuk hedging dengan instrument derivatif, kompensasi diberikan oleh pihak lain ( counter party ) yang menjual kontrak derivatif tersebut.

3.      Incorporated
      Incorporated atau membentuk perseroan terbatas merupakan alternatif transer risiko, karena kewajiban pemegang saham dalam perseroan terbatas hanya terbatas pada modal yang disetorkan.

4.      Teknik lainnya
      Selain teknik transfer  risiko yang disebutkan di atas, ada banyak teknik transfer risiko lainnya.

KEPUTUSAN MEMILIH ALTERNATIF MANAJEMEN RISIKO
Secara umum jika risiko mempunyai frekuensi yang sering dengan severity yang rendah, maka alternatif risiko ditahan merupakan alternatif yang paling optimal. Jika risiko mempunyai frekuensi yang kecil tetapi mempunyai severity yang besar, maka alternatif ditransfer merupakan alternatif yang optimal. Jika frekuensi dan severity tinggi, maka perusahaan bisa berpikir untuk menghindari risiko tersebut.
       
Alternatif manajemen risiko :
Frekuensi
( probabilitas )
Severity
( keseriusan )
Teknik yang dipilih
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Ditahan
Ditahan
Ditransfer
Dihindari

Penggunaan alternatif – alternatif tersebut perlu dilengkapi dengan pengendalian risiko. Pengendalian risiko berkaitan dengan alternatif – alternatif risiko seperti berikut ini. Untuk alternatif menahan risiko, maka pengendalian risiko menjadi penting  dilakukan. Pengendalian risiko yang baik bisa memperkecil risiko, sehingga alternatif menahan risiko menjadi lebih layak. Untuk alternatif mentransfer risiko, pengendalian risiko bisa menurunkan harga yang dibayar untuk mentransfer risiko tersebut.


4.   PENGENDALIAN RISIKO ( RISK CONTROL )
Untuk risiko yang tidak bisa dihindari,organisasi perlu melakukan pengendalian risiko. Dengan   menggunakan dua dimensi yaitu probabilitas dan severity. Pengendalian risiko bertujuan untuk mengurangi probabilitas munculnya kejadian, mengurangi tingakt keseriusan ( severity ), atau keduanya.
Ada beberapa teori yang ingin menelusuri penyebab munculnya risiko, antara lain :

1.    Teori domino ( Heinrich, 1959 )
Teori ini mengatakan bahwa kecelakaan bisa dilihat sebagai urutan lima tahap berikut ini :
1.    Lingkungan sosial dan faktor bawaan yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu            ( misal mempunyai temperamen tinggi sehingga gampang marah )
2.    Personal fault ( kesalahan individu ), dimana individu tersebut tidak mempunyai respon yang    tepat (benar) dalam situasi tertentu.
3.    Unsafe act or physical hazard ( tindakkan yang berbahaya atau kondisi fisik yang berbahaya )
4.    Kecelakaan
5.    Cedera

2.    Rantai risiko ( Risk Chain )
Menurut Mekhofer, 1987, risiko yang muncul bisa dipecah ke dalam beberapa komponen :
1.   Hazard ( kondisi yang mendorong terjadinya risiko )
2.   Lingkungan di mana hazard tersebut berada
3.   Interaksi hazard dengan lingkungan
4.   Hasil dari interaksi
5.   Konsekuensi dari hasil tersebut

3.    Fokus dan Timing Pengendalian Risiko
a. Fokus pengendalian risiko
Pengendalian risiko bisa difokuskan pada usaha mengurangi kemungkinan ( probability ) munculnya risiko dan mengurangi keseriusan ( severity ) konsekuensi risiko tersebut.
Pemisahan ( separation ) dan duplikasi ( duplication ) merupakan dua bentuk umum metode untuk mengurangi keseriusan risiko. Contoh pemisahan adalah menyebar operasi perusahaan, sehingga terjadi kecelakaan kerja, karyawan yang menjadi korban akan terbatas.
Tentunya kita bisa menggunakan metode mengurangi kemungkinan munculnya risiko dengan penguranganseverity secara bersamaan. Sebagai contoh, dokter ahli bedah belajar metode baru dalam pembedahan yang lebih canggih dan lebih aman. Dengan metode baru tersebut, dokter tersebut bisa mengurangi probabilitas terkena risiko digugat akibat mal – praktik, dan juga sekaligus menurunkan severity tuntutan jika risiko gugatan terjadi.

b. Timing pengendalian risiko
Dari sisi timing ( waktu ), pengendalian risiko bisa dilakukan sebelum, selama, dan sesudah risiko terjadi. Sebagai contoh, perusahaan bisa melakukan training untuk karyawannya mengenai peraturan, prosedur, dan teknik untuk menghindari kecelakaan kerja. Karena aktivitas tersebut dilakukan sebelum terjadinya kecelakaan kerja, maka aktivitas tersebut merupakan aktivitas sebelum risiko terjadi.
Pengendalian risiko juga bisa dilakukan pada saat terjadinya risiko. Sebagai contoh, kantong udara pada mobil secara otomatis akan mengembang jika terjadi kecelakaan. Pengendalian risiko bisa juga dilakukan setelah risiko terjadi.

Tugas MEET 04


IDENTIFICATION AND RISK MEASUREMENT

IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN RESIKO
Jika risiko tidak bisa diidentifikasi maka risiko tidak dapat diukur maka kita tidak bisa mengelola risiko.  Dalam bab ini kita akan membicarakan mengenai karakteristik dan pengukuran berbagai risiko.  Dua tipe risiko yaitu risiko murni dan risiko spekulatif ( risiko bisnis ).  Karena risiko memiliki karakteristik yang berbeda-beda maka pengukurannya pun jugab berbeda-beda. 

IDENTIFIKASI RISIKO
Pengidentifikasian risiko adalah hal pertama yang harus dilakukan sebelum pengukuran risiko.  Secara umum langkah-langkah dalam identifikasi dan pengukuran risiko adalah:
1.      Mengidentifikasi risiko dan memelajari karakteristik risiko.
2.      Mengukur risiko dengan melihat seberapa besar dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan, dan menentukan prioritas risiko.
  
    Siklus Mapping risiko (Siklus Manajemen Risiko)
  1.     . MEMAHAMI
  2.       IDENTIFIKASI
  3.       REVISIT
  4.       PENGELOLAAN
  5.       PRIORITASI
  6.       EVALUASI
Mengidentifikasi Sumber-sumber risiko
Dengan memperluas pengamatan terhadap sumber-sumber risiko. Sumber-sumber resiko dilingkungan sekitar kita :
  •     Lingkungan fisik : bangunan yang dimakan usia sehingga menjadi rapuh, sungai yang menyebabkan banjir, gempai, badai, topan.
  •     Lingkungan sosial : Kerusuhan sosial, demonstrasi, konflik dengan masyarakat lokal, pemogokan pegawai, perampokan.
  •        Lingkungan politik : perubahan perundang, perubahan aturan, konflik antar negara yang mendorong boikot produk perusahaan.
  •      Lingkungan legal : gugatan karena gagal mematuhi peraturan dan perundangan yang berlaku.
  •    Lingkungan operasional : kecelakaan kerja, kerusakan mesin, kegagaglan sistem komputer, serangan virus terhadap komputer.
  •      Lingkungan ekonomi : kelesuhan ekonomi, inflasi yang tidak terkendali.
Dengan mematuhi sumber-sumber risiko kita bisa memperoleh gambaran risiko apa saja yang mungkin muncul dan membahayakan organisasi. Alternatif katagori sumber risiko :
·   Konsumen : keluhan dari konsumen yang mengakibatkan kekecewaan dan tidak mau membeli produk perusahaan, konsumen merasa rugi kemudian menuntut perusahaan.
·        Supplier : pasokan dari supplier tidak sesuai yang diharapkan.
·     Pesaing : pesaing meluncurkan produk baru yang lebih baik, pesaing menurunkan harga yang bisa mengakibatkan persaingan harga.
·       Regulator : perusahaan gagal mematuhi perusahaan yang berlaku, perubahan perundangan yang berlaku mengakibatkan perusahaan rugi.

Teknik pendukung lainnya
a.       Metode laporan keuangan
·       Metode tersebut dimulai dengan melihat rekening-rekening dengan laporan keuangan. Dari rekening tersebut kemudian dianalisis resiko apasaja yang bisa muncul dari rekening yang melibatkan rekening tersebut.
·     Contoh : kas merupakan salahsatu rekening di neraca, risiko yang bisa muncul atau melibatkan khas misalnya pencurian kas, penyelewengen kas, dll.

MENGUKUR RESIKO
·        Dengan melakukan pengukuran resiko kita bisa melihat tinggi rendahnya resiko yang dihadapi perusahaan, kemudian bisa melihat dampak dari resiko terhadap kinerja perusahaan sekaligus bisa melakukan prioritisasi resiko, resiko yang mana yang paling relevan. Pengukuran biasanya dilakukan melalui kuantifikasi risiko.

·         Pengukuran untuk beberapa risiko
Tipe risiko
Definisi
Teknik pengukuran
Risiko pasar
Harga pasar bergerak kea rah yang tidak menguntungkan 
Value at Risk                 ( VAR ), stresstesting
Risiko kredit
Counterparty tidak bisa membayar kewajibannya       studibisnis.com(gagal bayar ) ke perusahaan
Credit rating, creditmetrics
Risiko perubahan tingkat bunga
Tingkat bunga berubah yang mengakibatkan kerugian pada portopolio perusahaan
Metode pengukuran jangka waktu, durasi
Risiko operasional
Kerugian yang terjadi melalui operasi perusahaan ( misal system yang gagal, serangan teroris )
Matriks frekuensi dan signifikansi kerugian, VAR Operasional
Risiko kematian
Manusia mengalami kematian dini ( lebih cepat dari usia kematian wajar )
Probabilitas kematian dengan table mortalitas
Risiko kesehatan
Manusia terkena penyakit tertentu
Probabilitas terkena penyakit dengan menggunakan table morbiditas
Risiko teknologi
Perubahan teknologi mempunyai konsekuensi negative terhadap perusahaan
Analisis skenario



         
    Tugas Meet 03